Kisah Guntur, Bocah Lumpuh Penggemar Ariel Noah yang Hidup Tanpa Orangtua

Guntur Febriansyah (8), bocah tanpa orangtua kandung yang lumpuh sejak enam tahun lalu | KOMPAS.COM/PUTRA PRIMA PERDANA

Guntur Febriansyah (8), bocah tanpa orangtua kandung yang lumpuh sejak enam tahun lalu | KOMPAS.COM/PUTRA PRIMA PERDANA

BANDUNG – Wanita888.com : Di dalam rumah sederhana di Gang Budi V Nomor 31 RT 04 RW 03 Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, tubuh Guntur Febriansyah terbujur lemas di atas kasur tipis. Cuma senyum tipis yang mengembang dari bibirnya.

16 Februari 2015 mendatang, Guntur genap berusia 8 tahun. Jika dihitung-hitung, 6 tahun sudah penyakit yang hingga kini belum diketahui jenisnya membuat kaki, tangan dan tubuh Guntur mengecil serta tidak bisa digerakan.

Selain tubuh yang lunglai, penyakit ini juga menjadikan Guntur bisu. Guntur yang dulu masih lucu-lucunya sebagai balita, pernah merasakan kasih sayang dari orangtua. Namun, cinta dari orang terkasih itu hilang di saat dirinya lumpuh tak berdaya.

Ibunya, Nurhayati, meninggal dunia karena sakit paru-paru. Berselang tujuh hari ditinggal mati ibunya, ayah Guntur, Dadan tiba-tiba menghilang tak berbekas. Tanpa kabar dan tanpa rasa bersalah, sang ayah menelantarkan Guntur bersama kakek dan neneknya.

Otomatis tanggungjawab merawat guntur dibebankan kepada orangtua Nurhayati. Namun, seperti tidak habis-habisnya Guntur menjalani cobaan. Setelah ditinggal kedua orangtuanya, kakek dan neneknya juga meninggal.

Neneknya tutup usia lima tahun lalu. Sementara, sang kakek baru 100 hari lalu dimakamkan. Lalu siapa yang merawat bocah lumpuh ini? Kokom (55), adik dari neneknya kini menjadi orang paling setia berada di samping Guntur.

Kisah getir tentang kehidupan Guntur pun didapat dari Kokom. “Dulu masih bisa jalan dan sempat bisa ngomong juga, tapi setelah diterapi di rumah sakit badannya panas lagi. Setelah itu malah enggak bisa bicara, enggak bisa jalan, tangan enggak bisa gerak juga, lemas semua,” kata Kokom sambil menangis tersedu saat ditemui di kediamannya.

Sejak nenek dan kakek Guntur masih hidup, Kokom memang lebih banyak turun tangan merawat. Maka dari itu, Kokom lebih banyak mengetahui kondisi bocah laki-laki yang terlahir normal dengan bobot 2,7 kilogram ini.

Pernah juga sekali waktu Guntur dibawa berobat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk memastikan jenis penyakitnya. “Kalau kata dokter ada gangguan cairan otak. Saya enggak tahu apakah kepalanya pernah terbentur atau tidak,” tutur Kokom.

Meski murah senyum, Guntur sering kali mengeluh. Yang pertama, setiap ingin buang air besar, bocah ini selalu merasakan sakit sampai harus menjerit. Maklum, selain susah makan, Guntur juga jarang buang air besar. Kadang dia ‘BAB’ hanya dua minggu sekali.

“Guntur juga sering kaget bahkan sampai nangis kalau dengar suara bersin atau batuk yang keras. Kalau ada yang marah-marah juga kaget,” ujar Kokom.

Kokom begitu sabar dan ikhlas merawat Guntur. Namun dengan kondisi tubuh yang semakin lama digerogoti usia, Kokom mengaku mulai kewalahan. Apalagi, saat ditemui Kokom juga tengah sakit.

Dengan berat tubuh Guntur saat ini mencapai 10 kilogram lebih, Kokom tidak lagi bisa menggendong Guntur dalam waktu lama. Selain itu, masalah biaya juga dirasakannya semakin berat.

“Yah, kalau memang ada bantuan cuma ingin Guntur bisa jalan lagi bisa normal lagi. Setiap bulan ada bantuan Rp 300.000 dari Dinsos. Tapi cukup apa atuh pak, untuk popoknya saja kurang. Belum lagi kalau berobat,” keluh dia.

Fans Ariel
Meski pun sebagian besar organ tubuh tidak bisa berfungsi dengan baik, Guntur masih bisa melihat dan mendengar dengan sempurna. Dengan kedua organ tersebut, Guntur biasa menghibur diri dengan menikmati lagu terutama yang dinyanyikan oleh Ariel Noah.

“Guntur paling senang kalau dengar atau nonton (video klip) lagu-lagu Ariel. Pasti langsung senyum,” aku Kokom.

Benar saja, mimik wajah Guntur seketika berubah sumringah ketika salah satu lagu Noah berjudul menghapus jejakmu diputar. Giginya yang terlihat rusak keropos tidak menyembunyikan kesenangannya terhadap lantunan merdu suara Ariel.

Kontributor Bandung, Putra Prima Perdana | Tribunnews.com

 

Related News

Dibaca 308 kali

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar

wpDiscuz
Read previous post:
Buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” Membolehkan Hubungan Seks

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menilai buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” tidak memberikan pendidikan seks bagi remaja.

Close